sponsor

Sabtu, 19 April 2014

Air Terjun Madakaripua

       Letak air terjun ini berdekatan dengan wisata gunung bromo dan Air Terjun Madakaripura juga masuk dalam wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). lokasinya berada di Desa Desak, Kec Lumbang, Probolinggo, Jawa Timur.

         Untuk memasuki Madakaripura kita harus melewati pedesaan dengan jalan menanjak beraspal yang lebarnya kurang lebih 3m, kental sekali nuansa pedesaannya, beberapa masyarakat mencari nafkah dengan membudidayakan lebah penghasil madu untuk menyambung hidup, cukup seru ketika melihat kotak-kotak berisi lebah ada dipinggir jalan yang mereka gunakan untuk mengambil madunya,

 Berikut adalah dokumentasi 27 oktober 2013


 



        Keindahan Air Terjun Madakaripura diakui banyak wisatawan yang datang ke lokasi, dan mayoritas pengakuan itu datang secara tiba-tiba setelah sampai di tujuan. Namun Meski demikian, untuk  sampai ditujuan, wisatawan masih memerlukan lagi perjalanan kaki menuju pusat air terjun  perjalanan yang tempuh pun tidak mudah, sebab harus melalui naik turun berjalan menyusuri sungai dan jalan setapak kurang lebih 1,5 kilo dengan keadaan nya masi terjal alias masi alami, di butuhkan  waktu tempuh kurang lebih selama 30 menit, sebab lokasi pusat air terjun ini seperti melewati lorong perbukitan.

         Sebelum anda sampai di air terjun utama anda harus melewati air terjun juga yang ada 100m diatas kepala anda terbelih dahulu, ini menjadi seru karena anda harus basah basahan terlebih dahulu sebelum mencapai air terjun utama, yang ga mau basah2an bisa nyewa payung karena disana sudah ada orang2 yang siap menyediakan ojek payung untuk anda.

         Tapi perjuangan anda belum berakhir anda harus menaiki bebatuan yang lebarnya cuma sejengkal dan tingginya 2 meter untuk mencapai air terjun utama itupun anda harus bergantian dengan banyak orang. Disinilah perjuangan anda akan dibayar oleh pemandangan air terjun utama yang sangat mengagumkan, sungguh penciptaan tuhan yang luar biasa. jika dibayangkan kita seperti berada dalam sebuah tabung raksasa ketika sepasang mata kita menyaksikan air yang turun dari ketinggian kurang lebih 200meter diatas kita

         Setelah sampai di pusat air terjun, keindahan sisi kiri dan kanan lokasi ini akan membuat hati tertegun, karena keindahannya jauh berbeda dibanding beberapa air terjun yang ada di Indonesia.

Peringatan air yang tepat berada dibawah air terjun ini karena kedalamannya 7-8meter lho, kalau anda bisa renang tidak masalah dan satu lagi anda harus waspada bahaya material  batu atau kayu yang mungkin ikut terbawa arus air

Berikut adalah dokumentasi 27 oktober 2013

 

 

 
 



 

Cerita
Madakaripua adalah Air terjun yang menyimpan sejarah mengenai Perang Bubat dan Patih Gajahmada(Air Terjun Madakaripura merupakan tempat kediaman terakhir salah satu jendral besar dalam sejarah kerajaan di Indonesia, Mahapatih Gajah Mada.

 Perang Bubat

Berbicara sejarah Madakaripura tidak akan jauh dari Perang Bubat. Perang antara kerajaan Sunda Galuh dan Majapahit ini menjadi penyebab utama dipecatnya Gajah Mada dari jabatan Mahapatih (sekarang sama dengan perdana menteri). Setelah pemecatan tersebut Gajah Mada memutuskan untuk mengasingkan diri di Madakaripura.

Sekitar tahun 1364 raja Majapahit, Hayam Wuruk, berniat mempersunting putri kerajaan Sunda Galuh yang bernama Dyah Pitaloka Citraresmi. Selain untuk mencari permaisuri, keinginan meminang Dyah Pitaloka ini juga bertujuan untuk mempererat hubungan 2 kerajaan. Untuk itu Hayam Wuruk mengirimkan Gajah Mada ke Sunda Galuh untuk melamar Dyah Pitaloka.

Lamaran Hayam Wuruk diterima. Pada hari yang telah ditentukan, Dyah Pitaloka berangkat ke Majapahit dengan menggunakan jalur laut. Pada perjalanan ini ikut serta raja Sunda Galuh (Prabu Linggabuana) dan permaisurinya, beberapa orang menteri, serta beberapa ratus prajurit pengawal kerajaan, pasukan Balamati. Total rombongan yang berangkat sekitar 200 kapal.

Kedatangan rombongan dari Sunda ini mengundang niat buruk dari salah satu senopati di pasukan Bhayangkara, pasukan elit yang dimiliki Mahapahit. Ketika rombongan Linggabuana sampai di Lapangan/Pasanggrahan Bubat (alun-alun Majapahit), senopati tersebut menghentikan rombongan dengan alasan Hayam Wuruk masih mengadakan persiapan pernikahan dan Gajah Mada masih bersemedi di kediamannya. Lebih lanjut, senopati tersebut menuntut agar pernikahan ini tidak dijadikan pernikahan antara 2 kerajaan yang berdaulat, tetapi sebagai pertanda bergabungnya Sunda Galuh kepada kerajaan yang lebih besar (saat itu Majapahit menguasai hampir seluruh kawasan nusantara). Dyah Pitaloka harus dianggap sebagai persembahan tanda takluk dan bergabungnya Sunda Galuh kepada Majapahit (versi sejarah lain menyatakan bahwa senopati ini adalah utusan resmi Gajah Mada).

Linggabuana sangat geram dengan perbuatan senopati ini. Apa yang telah dilakukan senopati tersebut merupakan penghinaan bagi dirinya dan seluruh kerajaan Sunda Galuh. Meskipun wilayah Sunda Galuh lebih kecil (meliputi Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah), tapi kerajaan itu tetap memiliki kedaulatan penuh. Terlebih lagi Linggabuana datang ke Majapahit untuk memenuhi lamaran Hayam Wuruk.



Referensi : http://kancangopi.blogspot.com/2013/04/air-terjun-madakaripura.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar